Skip to main content

Gua Maria Pereng, Getasan

kalo biasanya ke Gua Maria Kerep Ambarawa, sekarang di Getasan ada gua Maria baru. hari Jumat kemarin aku sempat ke sana sih, dan udaranya masih baguuuus banget. masih dingin. ceritanya sih matahari panas menyengat, tapi di lantai paving yang disinari matahari aja hangat kok.

kalo nggak tau dimana Getasan, Getasan itu Salatiga yang kemudian masuk ke daerahnya Camping Ground Salib Putih. aku nggak tau apa jalannya juga sih -____- seingatku, jalannya naik terus, akhirnya nanti ada plangnya "Gua Maria Pereng 100m"

ini Guanya

ini Bunda Marianya

ini sendangnya

ini pelataran doanya
air sendangnya itu jernih, udah gitu dingin. nggak ada kran sama sekali lho, kayaknya memang udah dari Marianya sendiri. dia minta dibuatin Gua Maria di situ ;;)
sebetulnya belum diresmikan sih, diresmikan baru tanggal 30 Agustus 2012 ini. tapi toh Bunda Maria juga sudah ada di situ kok untuk mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kita :)

Comments

Popular posts from this blog

a man without smile

Yesterday, I saw a photo with my friend. I was very surprised. Not, not because the photo was bad or very good, but…

My friend (call him X): what a good photo it is!
Me: really? Are you sure?
X: yeah. What do you think about it?
Me: Hmm, I have another thought.
X: what’s that? You have doubt, haven’t you?
Me: hey yeah! Yea I have some doubt.
X: why?
Me: well, honestly, this photo is good (X nodded his head). But the picture is a man without smile with his odd black shadow. You know what, I’m not sure this man was alive when the photographer took this picture.
X: so you mean this man is dead?
Me: uh-huh.
X: how can you think like that?
Me: he looks pale.
X: another reason?
Me: look at his expression.
X: yeah, what’s wrong?
Me: expressles.
X: umm… yeah, I see it.
Me: don’t you think he’s dead? Nobody is expressless, even tough he or she sad. Shortly, he will not be expressless if he’s alive.
X: ow.
X: then, see this wall.
X: uh-hum.
Me: do you think this black shadow is his? I think…

Demi Koruptor: Manusia Terbaik dan Terburuk

Buang saja akal sehat, teruskan akal cacat
toh dunia hanya menerima apa yang akan terjadi
makan saja barang haram, biarkan kapal halal karam
toh hidup untuk mencari, bukan mencaci

pikirmu kecurangan dapat diperbaiki
namun dosamu hampir tak terampuni
sangkamu korupsi dapat ditutup
namun busukmu takkan begitu saja terkatup

matamu bergelimangan uang
tapi hari kami terluka oleh arang
tanganmu penuh emas
tapi kaki kami menginjak panas


Indonesia terus menangis
telah kenyang oleh janji picis!
rakyat hidup terlunta-lunta
menatap kata-kata yang penuh asa!

sudahlah.
betapapun kami berseru, hatimu tetap keras
betapapun kami berteriak, telingamu tetap tumpul tak pernah terasah
wajah sialan itu tak bisa digagas!

bakar nyawa kami
kau bahkan tak malu akan arti kritik
tubuh kami terkikis oleh kejamnya kaki
kepala kami terbakar oleh panasnya api dari jentik



original words from Lorraine Antoinette Cintyadewi.
add me on Facebook: Lorraine Antoinette
follow me on Twitter: @lolalol920

picture is taken from Go…